• slide nav 1

    Emas Batangan

    LM Gold Cast Bars
  • slide nav 2

    GOLD

    Minted Bars
  • slide nav 3

    DINAR - DIRHAM

    Kembali Kepada Syariah
  • slide nav 4

    PELUANG

    PROTEKSI DAN INVESTASI
  • slide nav 5

    SERBA-SERBI

    DINAR - DIRHAM DAN LM
  • slide nav 6

    Dinar - Dirham

    Dimasa Sekarang

TESTIMONIAL


(Penulis Best Seller)

untuk pembelian emas LM, dirham, dinar follow insya Allah amanah. Baca utk visi finansial pribadi & kel muslim.


(Penulis Best Seller)

Rekomendasi Beli LM di

cepat simple dan amanah :)

DINAR EMAS, APLIKASI NILAI-NILAI EKONOMI ISLAM

Diposting oleh Mau Dinar? di 04.51
Sistem ekonomi berbasis emas, yang ditandai dengan pemberlakuan kembali dinar emas, mulai muncul dengan lahirnya sebuah fatwa pada tanggal 18 agustus 1991. Fatwa tersebut berjudul : “Fatwa Concerning The Islamic Prohibition of Using Paper Money as a Medium of Exchange”, atau “Fatwa Tentang Larangan Pemakaian Uang Kertas Sebagai Alat Tukar”. Gerakan ini dimotori oleh Umar Vadillo.
“Setelah meneliti dengan seksama berbagai aspek dari uang kertas”, tulis Vadillo, “berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, kami menyatakan penggunaan uang kertas sebagai alat tukar dalam bentuk apapun adalah riba dan karena itu haram hukumnya.”[1]
Vadillo mengungkapkan ada dua hal yang harus dipahami dalam melihat karakteristik uang kertas:
1. Uang kertas sebagai debt (hutang), yaitu surat jaminan hutang, yang masuk dalam kategori dayn.
2. Uang kertas sebagai merchandise (sebagai barang komoditas) yang dikategorikan sebagai ‘ayn.[2]
Uang kertas diketegorikan sebagai hutang, dengan melihat sejarah awal kelahirannya, yaitu sebagai surat jaminan dari bank atau tempat-tempat penitipan uang (emas) pada saat itu untuk membayarkan sejumlah uang yang dititipkan. Namun dalam perkembangannya surat tersebut diberlakukan sebagai alat tukar. Penggunaan surat hutang sebagai alat transaksi menimbulkan persoalan baru berupa riba dan pengelabuan nilai uang itu sendiri, karena dicetaknya surat hutang tersebut secara berlebihan sehingga tidak lagi menggambarkan nilai riil dari uang yang dititipkan. Oleh karena itu, pemberlakuan surat hutang sebagai alat tukar tidak dapat diterima.
Adapun dari segi fisik uang kertas itu sendiri (‘ayn), sebenarnya tidak memiliki nilai sama sekali. Kertas dapat berlaku sebagai uang hanya karena monopoli Negara dalam menetapkan nilainya. Mekanisme perbankan yang sarat dengan riba juga menjadi perpanjangan tangan penciptaan nilai-nilai uang yang semu (fiktif). Karena itulah penggunaan uang kertas sebagai alat tukar dipandang sebagai riba dan haram.[3]
Dalam mengemukakan pandangannya Umar Vadillo banyak mengutip pendapat Imam malik dalam kitabnya Al-Muwattha.
Sebagai gantinya, menuruti konsekuensi fatwa tersebut, mulailah Vadillo dan kelompoknya mencetak kembali uang emas dan perak, dinar dan dirham, Untuk pertama kalinya pencetakan kembali dinar dan dirham ini dilakukan di kota bersejarah umat Islam, khususnya di Granada, Spanyol.
Untuk dapat memahami pemikiran dari gerakan ini, di bawah ini akan diuraikan bagaimana posisi dinar dalam perspektif hukum Islam, terutama dalam al-Qur’an dan al-Hadits, serta bagaimana dinar dikatakan sesuai dengan nilai-nilai ekonomi Islam.
Dalam al-Qur’an, ada beberapa ayat yang menunjukkan pengertian uang dan keabsahan penggunaan uang sebagai pengganti sistem barter. Kata-kata yang menunjukkan pengertian ‘uang’ dalam al-Qur’an ada beberapa macam, yaitu :
1. Dinar ( د ينا ر ), yaitu QS. Ali Imran : 75
2. Dirham ( د ر هـم / د را هـم ), yaitu QS. Yusuf : 20
3. Emas dan perak ( ذ هـب / فضـة ), penggunaan kata-kata emas dan perak ini banyak terdapat dalam al-Qur’an antara lain pada QS. At-Taubah : 34.
4. Waraq atau uang tempahan perak ( و ر ق ), yaitu pada QS al-Kahfi ayat 19
5. Barang-barang niaga yang biasa dijadikan alat tukar ( بضـا عـة ), tersebut antara lain pada QS. Yusuf ayat 88.
Pembahasan detail mengenai dinar lebih banyak ditemukan dalam ungkapan-ungkapan Hadits Rasululllah SAW. Data yang dapat dikumpulkan penulis dari Kutubub al-Tis’ah ( Kitab-Kitab Hadits 9 Perawi Hadits: Imam Bukhari, Muslim, Al-Turmudzi, Al-Nasaiy, Imam Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Imam Malik, dan Al-Daramy) menunjukkan adanya ratusan Hadits tentang dinar..[4] Ada beberapa uslub atau cara Rasulullah SAW dalam menunjukkan legalitas penggunaan dinar. Uslub-uslub tersebut antara lain [5] :

1. Menetapkan emas dan perak sebagai medium of exchange (alat tukar)
قال رسول الله : الذهب بالذهب , والفضة بالفضة , ….مثلا بمثل , يدا بيد , و الفضل ربا , فاذا اختلفـت هذه الأصنا ف فبيعوا كيف شئتم , اذا كان يدا بيد ( رواه مسلم )
“ Rasul bersabda : Emas dengan emas, perak dengan perak, ….harus sama takarannya, dan tunai. Jika ada kelebihan berarti riba. Adapun jika berbeda sifatnya maka juallah sesuai kehendakmu asal dilaksanakan tunai”[6]
2. Emas dan perak dijadikan standar harga barang ( standard of value), dan dengan standar tersebut beberapa aturan syar’iy ditetapkan (khususnya zakat dan diyat ).

1. قال النبي صلى الله عليه و سلم : ” ليس فيما د ون خمس أواق من الورق صد قة”
Artinya : Rasul bersabda : “Di bawah 5 Awaq Waraq (satuan pecahan uang emas di bawah dinar) tidak wajib zakat “[7]

“في كتاب النبي لعمرو بن حزم :” و على أهل الذ هب ألف د ينا ر”
“Dan pada Ahlu emas (keluarga mampu) diyatnya 1000 dinar”[1]
[1] Sunan Al-Daramy, Kitab Al-Diyaat, Bab Kam al-diyat min al-wariq wa al-zahab, juz.2, hal. 192
3. Uang emas dan perak diwajibkan Rasul untuk dipelihara (kestabilan harganya), tidak boleh dipalsukan, dilebur atau dihilangkan (peredarannya).

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ فَضَاءٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُكْسَرَ سِكَّةُ الْمُسْلِمِينَ الْجَائِزَةُ بَيْنَهُمْ إِلَّا مِنْ بَأْس ( روا ه أحمد وحديث رقم :2992 )
Artinya :Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW melarang dileburnya dinar dan dirham yang berlaku di tengah-tengah masyaraakat, kecuali uang palsu.[9]

4. Rasulullah telah memakai dinar dan dirham dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Ali ra : Rasulullah menikahkanku dengan Fatihimah ra dengan mas kawin 480 dirham. [10]

5. Disebutkannya kata-kata yang mengandung pengertian uang /emas untuk menggambarkan makna-makna tertentu, dengan maksud agar mudah diingat.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” مثل المؤمن مثل سبيكة الذهب ان نفخت عليها احمرت وان وزنت لم تنقصز ( رواه البيهقي )
Rasulullah SAW bersabda : “ Perumpamaan orang mukmin adalah seperti lampu emas, jika ditiup dia akan memerah dan jika ditimbang tidak akan berkurang” (HR Baihaqy).[11]

Hadits-hadits tersebut di atas ( dan banyak lagi hadits senada), selain menunjukkan pada legalitas penggunaan dinar dan dirham, juga menunjukkan bagaimana konsep uang menurut Islam secara menyeluruh. Konsep Islam dalam hal uang secara umum meliputi hal-hal berikut :

I. Uang sebagai Alat Tukar dan bukan Komoditas
Sistem ekonomi Syari’ah menganggap uang semata-mata sebagai alat tukar. Sebagai alat tukar ia tidak menghasilkan nilai tambah apapun, kecuali apabila ia dikonversi menjadi barang atau jasa. Dengan demikian, setiap transaksi keuangan harus dilatarbelakangi oleh transaksi sector riil. Dalam konsep Islam juga tidak dikenal motif money demand for speculation, karena spekulasi tidak diperbolehkan. Dan kebalikan dari system konvensional yang memberikan bunga atas harta, Islam malah menjadikan harta (capital) sebagai objek zakat. [12]
Ekonomi Islam secara jelas telah membedakan antara money dan capital. Dalam Islam, money adalah flow concept. Dengan kata lain, semakin cepat money berputar dalam perekonomian, maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat, dan oleh karenanya akan semakin baik perekonomiaannya. [13] Dalam konsep Islam, money adalah public goods, sedangkan capital adalah private goods. Money adalah milik masyarakat, dan oleh karenanya penimbunan uang (atau dibiarkan tidak produktif) berarti mengurangi jumlah uang beredar. Bila diibaratkan denga darah, maka perekonomian akan kekurangan darah, alias kelesuan ekonomi, alias stagnasi. Itu hikmah dilarangnya menimbun uang. Sedangkan capital, adalah milik pribadi, dan oleh karenanya capital adalah objek zakat. Bagi yang tidak dapat memproduktifkan capitalnya, nmaka Islam menganjurkan untuk melakukan musyarakah atau mudharabah bisnis dengan bagi hasil. Bila tidak ingin berisiko Islam menganjurkan qardI, yaitu meminjamkan capitalnya tanpa imbalan apapun. [14]
Ini sangat berlainan dengan konsep konvensional, yaitu money or capital adalah private goods. Konsep ini telah secara rancu mencampur-adukkan istilah money dan capital. Analoginya, adalah sama saja apakah capital diinvestasikan dalam proses produksi atau tidak, maka capital itu harus menghasilkan uang. Dikenallah konsep time value of money sehingga terjadilah riba dan pemberlakuan bunga atas uang. Akhirnya uang tidak lagi diperlakukan semata-mata sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai komoditas yang menghasilkan bunga. Islam jelas-jelas menolak konsep ini.[15]
Fungsi uang sebagai alat tukar ini menunjukkan bahwa uang memiliki karakter yang berbeda dengan barang dan komoditas lain, baik yang menyangkut daya tukar yang dimiliki, kepercayaan masyarakat terhadapnya, maupun posisi hukumnya. Maka Islam tidak memperbolehkan bunga (riba), baik dengan alasan sebagai imbalan sewa maupun alasan apapun.
Sewa hanya dikenakan terhadap barang-barang seperti rumah, perabotan, alat transportasi dan sebagainya, yang bila digunakan akan habis, rusak, dan kehilangan sebagian dari nilainya. Biaya sewa layak dibayarkan terhadap barang yang susut, rusak dan memerlukan biaya perawatan. Adapun uang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Karena itu, menuntut sewa uang tidak beralasan.
Konsep uang sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditas, sangat sesuai dengan karakteristik dinar. Kondisi dinar yang nilai intrinsiknya sama dengan nilai ektrinsiknya, membuat dinar amat sulit untuk dijadikan komoditas yang dibebankan bunga uang.
Hal ini berbeda dengan uang kertas yang kini telah diperdagangkan dalam pasar uang yang sarat dengan riba. Nilai uang kertas semata-mata ditentukan dari supply and demand pasar. Keuntungan dari jual beli uang dapat seenaknya ditentukan, dan ini sebenarnya merupakan riba. Kondisi ini membuat kesenjangan antara nilai uang yang diperjualbelikan dengan nilai barang yang beredar di pasar. Dunia perbankan juga ikut ambil bagian dalam hal ini. Itulah sebabnya sector moneter tidak akan pernah dapat menggambarkan sector riil di lapangan. Dengan demikian uang kertas benar-benar identik dengan riba, karena telah dijadikan komoditas dan bukan sekedar sebagai alat tukar.
II. Nilai Tukar Uang harus Adil
Dalam Islam, pertukaran uang antara satu mata uang dengan mata uang lainnya harus berlaku adil. Ini berarti bahwa satu mata uang jika ditukar dengan mata uang lain maka harus memiliki nilai yang sama dalam kapasitasnya sebagai alat tukar. Artinya kemampuan daya beli pada suatu mata uang harus sama dengan kemampuan daya beli pada mata uang yang ditukar. Katakanlah seandainya ada mata uang A ditukar dengan mata uang B, maka mata uang B ini harus dapat dibelanjakan pada sejumlah barang yang dapat dibeli dengan mata uang A. Jadi, yang menjadi barometer keadilan nilai tukar uang adalah kemampuan / daya beli uang tersebut terhadap barang dan jasa. Hal itu wajar karena nilai uang dapat diukur antara lain dari kesanggupan atau kapasitas uang untuk membeli (nilai uang adalah nilai derivative).[16] Keadilan dalam pertukaran mata uang ini sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai uang dalam fungsinya sebagai medium exchange maupun sebagai store of value. Kecurangan dalam pertukaran uang akan mengakibatkan jatuhnya nilai salah satu mata uang yang ditukarkan, dan hal itu akan mempengaruhi kemampuan daya beli uang tersebut. Itulah sebabnya Rasulullah menggambarkan penambahan dalam pertukaran uang adalah riba. Akibatnya akan berpengaruh pada tingkat harga barang, yaitu harga barang akan naik dan bisa terjadi inflasi.

Hal ini agak berbeda dengan uang kertas. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa uang kertas, selain berfungsi sebagai alat tukar, kini juga telah menjadi komoditas yang diperdagangkan dalam pasar uang. Adanya keuntungan yang dimungkinkan untuk diambil pada saat satu mata uang diperdagangkan telah memungkinkan kegoncangan nilai mata uang tersebut. Karena keuntungan tersebut tidak lain adalah riba. Juga kemungkinan adanya monopoli perdagangan dari para spekulan yang dengan mudah memborong uang, menahannya dan kemudian melepasnya di saat nilai mata uang tersebut anjlok. Konsekwensinya adalah tidak ada lagi unsure keadilan dalam pertukaran mata uang. Kemampuan daya beli suatu mata uang akan berbeda dengan kemampuan daya beli mata uang lainnya. Katakanlah, hard currency seperti dollar, euro, atau yen, tidak sama nilainya dengan soft currency seperti rupiah, bath, atau ringgit. 1 US$ misalnya mampu membeli beberapa barang di Indonesia. Tetapi satu rupiah tidak akan berguna apapun juga diAmerika. Bahkan dengan nilai kurs yang ada sekarang (anggaplah sekitar Rp. 98000,- satu dollarnya) masih belum mampu untuk membeli barang yang sama yang dapat dibeli oleh satu dollar tersebut. Inilah ketidakadilan yang terjadi. Dan hal ini semakin menunjukkan lemahnya system paper money dan perlunya system alternative yaitu : dinar (mata uang berbasis emas).
III.Faktor-faktor penunjang stabilitas nilai dinar
Stabilitas nilai dinar tidak terlepas dari berbagai factor lain yang menunjang kestabilan nilai uang tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah : penawaran dan permintaan uang, pemercepatan peredaran uang, maupun kebijakan fiscal dan moneter. Faktor-faktor tersebut mengacu pada satu titik : yaitu adanya keseimbangan antara uang dan barang.
Berbagai aturan dalam perdagangan seperti larangan talaqqi-rukban (memonopoli barang untuk tujuan memainkan harga), larangan kanz mal (menimbun barang sehingga tidak produktif), dan larangan terhadap transaksi-transaksi spekulatif, juga diterapkan. Aturan di atas mempengaruhi keseimbangan antara pasar barang dan pasar uang berdasarkan transaksi tunai. Dalam aturan transaksi Islami lainnya ketika komoditi dibeli saat ini, tetapi pembayarannya dilakukan kemudian, uang dibayarkan atau diterima untuk mendapatkan komoditas atau jasa, sehingga terjadi pemercepatan peredaran uang. Dengan kata lain, uang dipertukarkan dengan sesuatu yang benar-benar menciptakan nilai tambah buat perekonomian. Transaksi lain seperti judi, riba, dilarang dalam Islam, sehingga keseimbangan antara arus uang dan barang dapat dipertahankan. Mengingat perputaran uang dalam periode tertentu relative stabil, dapat disimpulkan jumlah uang dalam suatu perekonomian sama dengan nilai barang dan jasa yang diproduksi. Dengan demikian stabilitas nilai uang dapat tercipta.
Dari berbagai uraian di atas jelaslah bahwa konsep dinar amat sesuai dengan nilai-nilai ekonomi Islam yang berkeadilan. Kesadaran umat Islam untuk membangun kembali perekonomiannya secara mandiri berdasarkan tuntunan Islam adalah mutlak. Peran serta seluruh lapisan ummat tentu sangat dibutuhkan, sehingga ummat Islam tidak lagi menjadi korban dari ketidakadilan sistem kapitalistik barat dengan paper money/fiat money dan bunga (interest) sebagai tonggaknya.

SUMBER http://nabela.blogdetik.com/islamic-economic/dinar-emas-aplikasi-nilai-nilai-ekonomi-islam/

0 komentar :

Posting Komentar

TESTIMONI

1.Rini Okta Ketagihan beli LM disini @mau_dinar, agen yg amanah,dijamin keasliannya,gampang transaksinya, ga perlu repot2 antri,bisa delivery,hanya selisih sedikit dari harga resmi AnTam,........ Thank you "Mau Dinar" (Bekasi)

2.Irfan Azam Fikri ‏ @IrfanWNG
alhamdulillah, terima kasih @mau_dinar,, barangnya oke pelayanan mantab orangnya ramah. insyaAllah pesen disini memuaskan (Otista Jaktim)

3.Heri Haryanto ‏ @ha2oxy
alhamdulillah sudah diterima #EMAS dari @mau_dinar pesan kemaren sekarang sudah diterima ty (tanjung Priok)

4.syarif furqon ‏ @syarifurqon
Reply Retweet Favorite · Open
Mw beli dinar atau LM, @mau_dinar recommended seller.. Pelayanan hangat, ramah dan bersahabat. :) (Sawangan)

5.Aris S. Yuwana ‏ @ArisYuwana
Reply Retweet Favorite · Open
Terima kasih buat @mau_dinar atas pelayanannya, buat Mba@asmanadia seneng bisa ketemu langsung tadi di toko

6.Priyo Wibowo ‏ @priyohw
Reply Retweeted Favorited · Open
@mau_dinar layanan nya ajib cpet lagi Thanks ya Nanti pesen lagi

7.antasari ‏ @sharieant
Reply Retweet Favorite · Open
@mau_dinar thank u ya,responnya cepet,amanah,brg diantar tepat waktu,harganya oke bgt!very recommended gold seller!!

Diskon Dinar dan Lelang Emas Murah LIKE

Diskon Dinar dan Lelang Emas Murah FOLLOW

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
Support Indonesia Trend